Politik
12 Maret 2010, 22:52:46| Laporan Noer Soetantini
Dinilai Melanggar Mekanisme Partai22 PAC Tetap Tolak Rekom RISMA
suarasurabaya.net|
Turunnya rekomendasi DPP PDI Perjuangan pada pasangan RISMA-BAMBANG DH ternyata tetap mendapat penolakan 22 PAC PDI Perjuangan. Mereka menolak rekomendasi tersebut karena dinilai melanggar mekanisme partai.
Di Posko Sabar, Jumat (12/03) malam, mereka menyatakan sikap atas turunnya rekomendasi pada pasangan RIDHO (Risma Bambang DH). Ada dua pernyataan sikap yakni mereka tidak gunakan hak pilihnya dan konsisten terhadap hasil Rakercabsus.
TEGUH TRI ADRIANTO Sekretaris PAC Krembangan pada wartawan, mengatakan, pemberian rekomendasi pada pasangan RIDHO karena hanya kepentingan segelintir elit politik di DPC dan DPD.
”Dalam Rakercabsus sama sekali tidak ada orang di luar kader yang dicalonkan sebagai pasangan yang diusung. Ini sebenarnya ada apa ?”ujarnya.
Disamping itu, kata TEGUH, pernyataan yang menyakitkan dari PRAMONO ANUNG Sekjen DPP PDI Perjuangan yang mengatakan pemberian rekomendasi pada RISMA juga berdasarkan pilihan dari BAMBANG DH.
”Kami sungguh prihatin terhadap BAMBANG DH yang lebih memilih RISMA sebagai bentuk ’orang yang gila jabatan’ dan tidak mementingkan aspirasi pengurus PDI Perjuangan di tingkat PAC dan Ranting,”tukasnya.
Sebagai bentuk keprihatinan, kata TEGUH, 500 kader PDI Perjuangan melakukan tanda cap jempol darah. Ini sekaligu upaya tekanan pada SIRMADJI sebagai orang yang bertanggungjawab atas turunnya rekom ke RISMA.
SUHARNO Bendahara PAC Tandes merasa prihatin dengan kondisi seperti ini. Jatuhnya rekomendasi di luar kader, menunjukkan tidak adanya penghargaan terhadap jerih payah pengurus seperti SALEH ISMAIL.
”Pada awal kali pertama Pilwali Surabaya digelar, Pemilu Legislatif, Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Presiden, yang bersusah payah Pak SALEH. Kalau pengurus setingkat Pak SALEH nggak dihargai, apalagi kami ini yang ada di tingkat PAC, malah tidak di-wong-kan. Ini bisa menurunkan wibawa partai sendiri,”tegas SUHARNO.
Sementara itu, SRI HONO YULARKO Ketua Forum PAC menambahkan dalam Pemilukada Surabaya 2 Juni, hanya ada 2 pilihan yang bisa dilakukan kader yakni tidak memberikan suaranya dan bisa saja suara diberikan pada calon walikota lainnya.
Tapi yang jelas, kata SRI HONO, kalau dalam Pemilukada Surabaya ternyata calon yang diusung PDI Perjuangan kalah, 22 PAC akan minta pertanggungjawaban DPP. ”Karena mereka yang memberikan rekomendasi, otomatis mereka harus bisa mempertanggungjawabkannya,”tegasnya.
SRI HONO menambahkan di saat partai lain sudah siap melangkah pada kesepakatan-kesepakatan berkoalisi dengan partai pendukung, PDI Perjuangan justru hadapi masalah internal partai. "Tiga hari lalu, kader melakukan pendekatan dengan 3 partai lain untuk ikut mendukung ternyata gagal karena keputusan DPP beri rekomendasi, tidak jelas dan dalam injury time,"pungkas SRI HONO. (tin)
Teks foto :
- Pernyataan sikap 22 PAC yang ditunjukkan pada wartawan di Posko Sabar
Foto : TITIN suarasurabaya.net