suarasurabaya.net - Bambang DH, mantan Walikota Surabaya menilai Tri Rismaharini sudah mulai melupakan PDI-P sebagai partai pengusung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2010 silam.

"Orang bisa saja berubah. Kadang diawal punya komitmen pada partai, bukan sumbangan lho ini. Tanya pada Bu Risma, sepeserpun PDI-P tidak pernah meminta," kata Bambang DH pada suarasurabaya.net, di sela-sela mengikuti grebek maulid di Rangkah, Surabaya, Selasa (14/1/2014).

Menurut Bambang DH, yang diharapkan PDI-P sebenarnya adalah komitmen Tri Risma untuk menjalankan roda pemerintahan seperti platform yang telah diamanatkan partai.

"Bagaimana garis perjuangan dan ideologi itu diterapkan supaya pemimpin membawa aspirasi partai pengusung dan bisa menterjemahkan kehendak rakyat," kata Bambang DH.

Saat ini, Bambang menilai Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya mulai melupakan komitmen awal saat dirinya diusung PDI-P pada pilkada 2010 lalu. Padahal, kata Bambang, saat itu Tri Rismaharini tak keluar sepeserpun uang ketika pilkada karena semua dibiayai secara gotong royong dari seluruh kader partai.

Bambang mengisahkan, sesaat setelah mendapatkan rekomendasi dari DPP, Tri Rismaharini sempat menghadap ketua cabang PDI-P Surabaya yang dijabat Wisnu Sakti Buana.

"Yang bersangkutan (Tri Risma) menghadap ketua cabang, menyampaikan, saya dapat rekom sebagai calon walikota, saya hanya punya uang Rp70 juta dan mobil kijang," kata Bambang menirukan Tri Risma.

Saat itu, Wisnu, kata Bambang, minta Tri Risma tidak usah keluar uang dan menjamin seluruh kader partai akan dengan suka rela bergotong royong memenangkan pilkada tanpa harus meminta uang pada Tri Rismaharini. (fik/edy)

Teks Foto:
- Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya ketika turun lapangan ikut membantu mengarahkan petugas PMK saat kebakaran di Ruko Dupak Surabaya.
Foto: Dok. suarasurabaya.net
Editor: Eddy Prastyo



POLITIK

Waktu Nyalon Walikota, Tri Risma Hanya Punya Uang Rp70 Juta

Laporan Fatkhurohman Taufik | Selasa, 14 Januari 2014 | 21:10 WIB
suarasurabaya.net - Bambang DH, mantan Walikota Surabaya menilai Tri Rismaharini sudah mulai melupakan PDI-P sebagai partai pengusung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2010 silam.

"Orang bisa saja berubah. Kadang diawal punya komitmen pada partai, bukan sumbangan lho ini. Tanya pada Bu Risma, sepeserpun PDI-P tidak pernah meminta," kata Bambang DH pada suarasurabaya.net, di sela-sela mengikuti grebek maulid di Rangkah, Surabaya, Selasa (14/1/2014).

Menurut Bambang DH, yang diharapkan PDI-P sebenarnya adalah komitmen Tri Risma untuk menjalankan roda pemerintahan seperti platform yang telah diamanatkan partai.

"Bagaimana garis perjuangan dan ideologi itu diterapkan supaya pemimpin membawa aspirasi partai pengusung dan bisa menterjemahkan kehendak rakyat," kata Bambang DH.

Saat ini, Bambang menilai Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya mulai melupakan komitmen awal saat dirinya diusung PDI-P pada pilkada 2010 lalu. Padahal, kata Bambang, saat itu Tri Rismaharini tak keluar sepeserpun uang ketika pilkada karena semua dibiayai secara gotong royong dari seluruh kader partai.

Bambang mengisahkan, sesaat setelah mendapatkan rekomendasi dari DPP, Tri Rismaharini sempat menghadap ketua cabang PDI-P Surabaya yang dijabat Wisnu Sakti Buana.

"Yang bersangkutan (Tri Risma) menghadap ketua cabang, menyampaikan, saya dapat rekom sebagai calon walikota, saya hanya punya uang Rp70 juta dan mobil kijang," kata Bambang menirukan Tri Risma.

Saat itu, Wisnu, kata Bambang, minta Tri Risma tidak usah keluar uang dan menjamin seluruh kader partai akan dengan suka rela bergotong royong memenangkan pilkada tanpa harus meminta uang pada Tri Rismaharini. (fik/edy)

Teks Foto:
- Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya ketika turun lapangan ikut membantu mengarahkan petugas PMK saat kebakaran di Ruko Dupak Surabaya.
Foto: Dok. suarasurabaya.net
Editor: Eddy Prastyo



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.