POLITIK

Nasdem Menilai e-Voting Belum Perlu di Indonesia

Laporan Muchlis Fadjarudin | Senin, 20 Maret 2017 | 22:17 WIB
suarasurabaya.net - Anggota Pansus RUU Pemilu baru saja pulang dari kunjungan kerja ke Mahkamah Konstitusi (MK), Kemendagri, KPU dan Parpol di Jerman untuk mengetahui hal penting e-KTP untuk e-voting dalam pemilu di negeri Eropa yang telah menerapkan e-Voting tersebut.

Pemungutan suara elektronik (e-voting) menjadi satu mekanisme pemilu yang ingin didalami oleh Pansus RUU Pemilu.

"Kami konfirmasi ke Jerman, justru e-voting ini bermasalah di sana. Tidak ada data pendukungnya, rawan untuk diterobos, atau di-hack. Jadi, bukan karena teknologinya, melainkan ada kekhawatiran jika muncul keluhan atas hasil pemilu maka tidak bisa dibuktikan secara data. Data dari e-voting juga rawan diretas," ujar Johnny G Plate anggota Pansus RUU Pemilu dari fraksi NasDem di Gedung DPR RI Jakarta, Senin (20/3/2017).

Menurut dia, pada awal pembahasan RUU Pemilu, Pansus melihat bagaimana ada satu permasalahan besar dalam penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Yaitu, adanya sengketa pemilu dengan jumlah yang cukup besar.

Dokumen-dokumen terkait kepemiluan dinilai sangat banyak. Kemudian tercetus pemikiran untuk menerapkan e-voting, e-counting (perhitungan suara) dan e-witnessing (saksi).

"Jadi, kami membutuhkan satu model, apa yang bisa melaksanakan pemilu serentak cepat, tepat dan minimal sengketa. Satu diantara yang dilihat adalah e-voting," kata anggota Komisi XI DPR RI ini.

Dengan demikian kata Johnny, NasDem berpendapat e-voting belum diperlukan. Untuk itu, hasil kunker Pansus RUU Pemilu ke Jerman dan Meksiko akan dirapatkan terlebih dahulu di tingkat pimpinan Pansus untuk kemudian ditindaklanjuti dalam pembahasan.

"Konfirmasi seperti ini penting agar keputusan yang diambil benar," kata Johnny.

Karena itu, Fraksi NasDem akan melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan BPPT untuk mencari informasi sebanyak mungkin terkait dengan kemungkinan penerapan e-voting, dan KPU.

"Kita akan menjelaskan bahwa Jerman belum menerapkan e-voting dalam pemilu, dan belum waktunya untuk Indonesia," ujar Johnny.

Sekadar diketahui, Pansus RUU Pemilu berkunjung ke Jerman dan Meksiko pada 11 hingga 16 Maret 2017 lalu.(faz/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.