POLITIK

Jika Isu SARA Dihembuskan di Pilkada Risikonya Sangat Besar

Laporan Dwi Yuli Handayani | Kamis, 11 Januari 2018 | 09:43 WIB
Ilustrasi. Grafis: Gana suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Naiknya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) terkait Pilkada dipicu oleh keberhasilan bagaimana mengelola isu SARA. Ini menjadi success story yang kemungkinan akan diangkat oleh kandidat yang maju dalam Pilkada di daerah masing-masing.

Gatut Priyowidodo Dosen Komunikasi Politik dan Komunikasi Organisasi UK Petra Surabaya mengatakan, jika isu SARA kembali dihembuskan maka risikonya sangat besar dan luar biasa dahsyat kerugiannya bagi bangsa kita.

"Kita berharap di Jatim isu SARA bisa diminimalisir meski isu SARA bisa tereliminasi 100 persen. Karena isu SARA menjadi salah satu daya tarik untuk merebut hati para pemilik," kata Gatut pada Radio Suara Surabaya, Kamis (11/1/2018).

Gatut berharap, kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jatim tidak lagi mengangkat isu SARA seperti DKI Jakarta.

"Kalau nanti tetap diangkat, jangan-jangan Jatim akan menjadi pilot project keberhasilan seseorang bahwa dengan isu SARA bisa memenangkan persaingan," ujar dia.

Namun, kata Gatut, yang tidak bisa kita hindari saat pelaksanaan Pilkada adalah upaya black campaign yang digulirkan sebelum permainan dilakukan. Mereka sepertinya tetap akan terjadi selain upaya-upaya positif yang "dijual".

Isu SARA, lanjut dia, mungkin tetap dipakai untuk mengalahkan pesaingnya. Dalam hal ini, yang paling berperan menjaga iklim politik di Jawa Timur adalah para pengusung masing-masing calon. Mereka sangat berperan aktif untuk mempromosikan calon yang diusung dan sebaliknya berusaha menjatuhkan calon pesaing.

Gatut menjelaskan, seperti dalam teori politik disebutkan salah satu tugas parpol adalah melakukan pendidikan politik. Tapi ternyata yang dijalankan oleh Parpol masih sangat minim dan rendah.

Ada beberapa parpol yang kaderisasi dan kelembagaannya cukup bagus tapi jenjang pendidikan politik cukup bagus tapi parpol yang lain tidak seperti itu. Maka ketika terjadi Pilkada, mereka kebingungan untuk memunculkan kadernya. Ini persoalan klasik di perpolitikan Indonesia.

"Secara teori kalau kader politik sudah melek politik maka dia akan memunculkan energi positif bagi lingkungannya. Tapi selama ini yang terjadi, masyarakat berpartisipasi politik hanya didapat dari pergaulan di masyarakat," ujarnya. (dwi/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA