POLITIK

Pengamat: Mahar Pilkada Sama Dengan Black Market Sulit Dibasmi

Laporan Jose Asmanu | Selasa, 16 Januari 2018 | 12:54 WIB
suarasurabaya.net - Cipta Lesmana Guru Besar Pakar Komunikasi dan Pengamat Politik Universitas Indonersia (UI) mengapresiasi niat KPK untuk mencegah politik uang di pesta demokrasi Pilkada maupun Pilpres.

Untuk mewujudkan niat yang mulia itu KPK maupun lembaga terkait seperti Badan Pengawas diingatkan harus cerdik dan bernyali besar.

Lesmana mengibaratkan mahar Pilkada serta politik uang itu seperti pasar gelap. Antara penjual dan pembeli saling membutuhkan tapi harus sama-sama menjaga rahasia.

Peserta Pilgub, Pilbub serta Pilwali pun tentu tidak akan mau bicara kalau untuk memperoleh rekomendasi bisa maju ke Pilkada harus mengeluarkan upeti untuk partai pengusung.

Demikian juga elit partai pengusung tidak ada satupun yang mau bicara kalau ada Peserta Pilkada yang memerlukan dukungan harus menyetor sekian ratus juta atau miliar rupiah ke partai.

Guru Besar UI itu menegaskan harus ada regulasi tentang pelaksanaan Pilkada.

"Kalau undang-undangnya masih seperti yang sekarang, mahar Pilkada dan politik uang sulit dihindari karena saling membutuhkan dan masing-masing berkepentingan. Kandidatnya butuh dukungan suara, masyarakatnya butuh uang," kata dia.

Menurut Lesmana, masyarakat sekarang semakin cerdas dan kritis. Bahwa suara mereka sangat berarti dan ikut menentukan nasib peserta pilkada maupun saat pemilu legislatif.

Masyarakat menilai anggota DPR maupun DPRD baik dan dekat dengan rakyat hanya saat menjelang pemilu, setelah jadi lupa dengan janjinya, sibuk memperkaya diri sendiri.

"Ini yang membuat masyarakat fragmatis dan lahir demokrasi transaksional.
Hanya orang-orang berduit saja yang bisa ikut Pilkada dan menjadi anggota legislatif," kata Lesmana dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (16/1/2018). (jos/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.