POLITIK

Demokrat Melihat Partai-Partai Masih Saling Intip Soal Cawapres

Laporan Muchlis Fadjarudin | Jumat, 13 Juli 2018 | 10:57 WIB
Hinca Panjaitan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Hinca Panjaitan Sekjen Partai Demokrat menegaskan kalau partainya masih terus membaca dan mengintip perkembangan cawapres yang akan dipasangkan dengan Jokowi maupun Prabowo.

Kata dia, Partai Demokrat bisa berkoalisi dengan kedua capres atau bahkan membentuk poros ketiga.

Posisi saling intip ini, kata Hinca, karena belum ada partai koalisi yang mendeklarasikan pasangan Capres dan Cawapresnya.

"Perkembangan itu kini makin cair, karena salah satu capres yang didukung koalisi parpol belum deklarasi," ujar Hinca di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Menurut dia, kalau sudah ada yang deklarasi, maka kaolisi itu akan makin konkret. Kata Hinca, kalau pendaftaran paslon Capres-Cawapres ke KPU di last minute (menit-menit terakhir) atau 9 Agustus, maka kerja-kerja politik akan makin keras.

Namun Hinca mengatakan, pihaknya sudah punya pengalaman DKI Jakarta, dimana penetapan pasangan cagub-cawagub AHY-Selvie diputuskan 23 September 2017. Padahal, pada Jumat pukul 00.00 WIB itu sudah penutupan.

"Jadi, saat ini saling intip," jelasnya.

Selain itu, dia berharap, jangan sampai Jokowi melawan kotak kosong. Sebab, kotak kosong bisa menjadi ancaman demokrasi.

"Kasus pilkada kota Makassar harus menjadi pelajaran, karena sungguh mencederai demokrasi kalau terbukti kotak kosong yang menang," kata Hinca.

Untuk itu, sebelum menentukan koalisi tersebut, kata Hinca, Demokrat pada 23 Juli 2018 nanti akan mengumpulkan DPC-DPC Demokrat seluruh Indonesia, untuk mendengar suara rakyat dari bawah.

"Setiap DPC akan menyampaikan aspirasinya tentang siapa capres-cawapres yang akan didukung oleh rakyat. Jadi, Demokrat akan mendengar suara dari bawah dulu sebelum menmutuskan koalisi, dan saat ini politiknya masih cair," pungkas dia.(faz/tin/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.