POLITIK

Ajak Saling Menghargai Perbedaan, KPU Jatim Gelar Deklarasi Kampanye Damai

Laporan Ika Suryani Syarief | Minggu, 23 September 2018 | 10:34 WIB
Eko Sasmito Ketua KPU Jatim bersama Inspektur Jenderal Polisi Luki Hermawan Kapolda Jatim dan Mayjen TNI Arif Rahman Panglima Daerah Komando (Pangdam) V Brawijaya saat deklarasi kampanye damai di Surabaya, Minggu (23/9/2018). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Selain deklarasi kampanye damai yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di kawasan Monas Jakarta Minggu (23/9/2018), KPU Jawa Timur juga menggelar kegiatan yang sama di Kota Surabaya.

Deklarasi kampanye damai ini dilaksanakan dengan berkarnaval dengan rute pendek dari Kantor KPU Jatim Jalan Tenggilis, menuju ke Jalan Jemursari, lalu putar balik di Pos Besar untuk kembali ke Jalan Tenggilis.

Eko Sasmito Ketua KPU Provinsi Jawa Timur menyampaikan, deklarasi kampanye damai yang digelar di kantor KPU Jatim akan diisi orasi atau sambutan dari KPU, serta perwakilan masing-masing tim sukses pasangan capres cawapres.

"Kami sepakat untuk menggelar kampanye damai dan secara simbolis membuat pernyataan ditandatangani oleh masing-masing partai politik dan pihak keamanan," ungkapnya pada Radio Suara Surabaya.

Untuk tamu undangan, ia juga menyampaikan, pihaknya telah menyediakan kuota 10 orang dari timses serta 20 hingga 50 orang untuk parpol pendukung. Ia juga mengatakan pada deklarasi ini, mereka dibebaskan mengenakan atribut apapun.

"Mereka bisa pakai baju adat atau baju seragam parpol mereka," katanya.

Sebelum deklarasi damai ini, pihak KPU Jatim juga menyampaikan pihaknya telah sepakat untuk menjaga Jawa Timur agar tetap damai hingga saat kegiatan pemilihan, masyarakat Kota Surabaya tetap patuh. Sementara jika nantinya ditemukan pelanggaran, maka Bawaslu akan menindak tegas.

Sebanyak 300 personel kepolisian gabungan dari polsek serta polrestabes dikerahkan untuk mengamankan kegiatan deklarasi kampanye damai ini.

Dalam kegiatan yang diperkirakan akan selesai pada pukul 10.00 WIB, Eko Sasmito juga mengimbau warga untuk tidak mengajak anak-anak mereka ikut dalam kegiatan kampanye.

"Apapun pilihan kita, perbedaan itu wajar. Dalam pemilu 5 tahun sekali ini, kita juga perlu belajar menerima perbedaan," pungkasnya menambahkan. (nin/iss)



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.