POLITIK

Jatim Laboratorium Persatuan dan Semangat Perjuangan

Laporan Denza Perdana | Rabu, 16 Januari 2019 | 21:11 WIB
Mahfud MD sebagai Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Mahfud MD sebagai Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan mengatakan, Sarasehan Kebangsaan digelar di Jawa Timur karena provinsi ini merupakan laboratorium persatuan dan semangat perjuangan.

"Jawa Timur ini adalah laboratorium persatuan umat, persatuan lintas etnis, laboratorium semangat perjuangan karena kepahlawanan lahir di sini: Boedi Oetomo lahir di sini, Pejuang Islam Cokroaminoto lahir di sini, dan sebagainya," katanya di Surabaya, Rabu (16/1/2019).

Menurutnya, semangat kebersatuan yang ada di Jawa Timru harus terus dibawa oleh semua gerakan yang ada. Baik gerakan kegamaan, juga gerakan kemasyarakat.

"Jawa Timur juga merupakan laboratorium budaya kerukunan. Budaya yang tumbuh di sini (Jawa Timur,red) menjadikan masyarakatnya terbuka tapi rukun," katanya.

Sarasehan Kebangsaan yang digelar di Surabaya, hari ini, oleh Gerakan Suluh Kebangsaan yang diketuai Mahfud MD, membahas persoalan-persoalan yang mengancam keutuhan NKRI.

Antara lain, maraknya politik identitas sehingga orang atau kelompok menyerang orang atau kelompok lain, tetapi keduanya sama-sama mengklaim penjaga identitas primordial.

Juga tentang kecenderungan kontestasi untuk mencari menang dan bukan mencari yang baik. Serta radikalisme yang menumpang dan mengadu domba melalui produksi berita-berita hoaks.

Gerakan Suluh Kebangsaan sendiri merupakan gerakan untuk merawat persatuan NKRI diawali dari keprihatinan sejumlah tokoh atas maraknya potensi perpecahan komponen bangsa.

Gagasan dari gerakan ini dimulai dari diskusi antara Mahfud MD, Alissa Wahid, Beny Susetyo, dan Ajar Budi Kuncoro yang kemudian didukung oleh para tokoh senior seperti Franz Magnis Suseno, Shinta Nuriyah Wahid, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan lain-lain.

Hadir dalam Diskusi tadi, Hj. Shinta Nuriyah Wahid Istri Abdurrahman Wahid Presiden Keempat RI, Prof. Dr. Katjung Marijan Guru Besar Ilmu Politik Unair, Prof. Dr. H. Abd A'la Guru Besar Uinsa, Romo Benny Susetyo, dan Prof. Dr. Syamsul Arifin Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang.(den/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.