POLITIK

Gus Hans Tunggu Arahan Partai Golkar untuk Maju Pilwali

Laporan Agung Hari Baskoro | Kamis, 12 September 2019 | 16:54 WIB
KH Zahrul Azhar atau Gus Hans Wakil Ketua Partai Golkar Jatim dalam jumpa pers yang digelar di rumah makan Bebek Goreng Harissa Merr, Surabaya pada Kamis (12/9/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - KH Zahrul Azhar atau Gus Hans tokoh muda yang pernah menjadi juru bicara tim pemenangan Khofifah-Emil pada Pilgub Jatim lalu mengaku masih menunggu arahan dari Partai Golkar untuk langkahnya di Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya 2020 mendatang.

Dalam jumpa pers yang digelar di rumah makan Bebek Goreng Harissa Merr, Surabaya pada Kamis (12/9/2019), ia menegaskan, sebagai kader partai Golkar, ia tak bisa seenaknya sendiri melangkah di Pilwali Surabaya 2020 mendatang.

"Saya ini Wakil Ketua Golkar Jawa Timur. Pengurus harian. Jadi setiap yang saya lakukan memiliki konsekuensi politik. Jadi setiap saya melangkah, harus melalui mekanisme partai politik," ujar Gus Hans ditemui di lokasi pada Kamis (12/9/2019) siang.

Gus Hans saat acara jumpa pers. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Ia juga mengaku tidak ada rencana untuk mendaftarkan diri melalui PDI Perjuangan, partai dengan perolehan kursi terbanyak di Surabaya, yang saat ini membuka pendaftaran bakal calon kepala daerah di Pilkada serentak 2020.


"Saya bukan orang seperti yang lain yang tidak punya partai. Kalau yang gak punya partai, ya bisa datang kemana-mana gak ada beban. Jadi kalau tadi ditanyakan kok ada orang-orang yang datang ke PDIP, ya karena gak punya partai, datang kesana. Tidak masalah, kalau saya belum bisa. Saya harus komunikasi dengan partai (Golkar, red)," tegasnya.

Sebagai tokoh yang dikenal dekat dengan Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim, Gus Hans mengklaim tak ingin melibatkan aparat negara dalam pencalonannya. Ia mengaku tak ingin mengklaim restu dan rekomendasi dari orang nomor satu di Provinsi Jatim itu.

"Saya paling tidak suka melibatkan aparat negara. Beliau sekarang jadi aparat negara," katanya.

"Saya tahu itu tidak baik untuk pendidikan politik kita. Kalau kita mengkapitalisasi kedekatan kita dengan tokoh, biarkan jadi komunikasi kita sendiri. Tidak untuk disampaikan di publik. Politik harus punya edukasi ke masyarakat, bukan sekedar menang kalah," lanjutnya.

Meski begitu, ia mengaku terus meminta saran Khofifah pada setiap langkah politik yang diambilnya dalam pilwali 2020 mendatang. Dalam pertemuan itu, Gus Hans mengaku generasi milenial menjadi kunci kesuksesan Surabaya.

"Kita ini memiliki bonus demografi, yang kalau misalnya tidak disikapi dengan baik, akan jadi bom waktu. Data yang kita terima, ada sekitar 46 persen pemilih besok ini adalah milenial. Artinya merekalah yang akan menghadapi Surabaya denhan resiko yang dihadapi. Kita harus memberikan ruang pada anak-anak muda ini, untuk menjadi pribadi yang mandiri, pekerja keras, aktif dan mengimbangi perkembangan yang ada di dunia," pungkasnya. (bas/tin)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.