POLITIK

Giliran Pengurus Fatayat NU Jatim Ambil Formulir Bakal Calon Wakil Walikota ke PDIP

Laporan Agung Hari Baskoro | Kamis, 12 September 2019 | 17:20 WIB
Lia Isthifhama pengurus Fatayat NU Jatim bersama beberapa rekannya mengambil formulir bakal calon wakil walikota Surabaya, pada Rabu (11/9/2019). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Lia Isthifhama atau akrab dipanggil Ning Lia pengurus Fatayat NU Jatim ikut meramaikan bursa bakal calon wakil walikota Surabaya lewat jalur PDI Perjuangan.

Mengambil formulir pada Rabu (11/9/2019), semifinalis Cak Ning 2005 itu ditemani beberapa temannya sesama alumni Universitas Airlangga.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Dwi Astutik Wakil Sekretaris Muslimat NU Jatim juga mengambil formulir bakal calon wakil walikota di kantor DPD PDI Perjuangan Jatim. Kedatangan ning Lia menambah daftar kalangan nadliyin yang memilih PDI Perjuangan sebagai kendaraan politik melaju di Pilwali Surabaya 2020 mendatang.

"Pertama, ini partai yang dominan. Kita harus menghargai ini sebagai dominan. Itu kenapa kita ambil wakil. Di internal, mereka memiliki kaser potensial. Jadi kota gak usah sombong," ujar keponakan Gubernur Jawa Timur tersebut.


Ia mengaku, salah satu alasannya memilih PDI Perjuangan adalah sebagai bentuk penghargaan pada relawannya yang banyak berasal dari "kalangan merah". Selain PDI Perjuangan, ia juga mengaku terus menjalin silaturahmi dengan partai-partai lain.

"Partai lain, ada, komunikasi. Ada. Kita sambung terus, silaturahmi," katanya.

Hingga menjelang penutupan pada tanggal 14 September mendatang, telah ada beberapa tokoh yang terpantau mendaftar melalui PDI Perjuangan. Nama-nama itu diantaranya Whisnu Sakti Buana Wakil Walikota Surabaya, Armuji Anggota DPRD Jatim,mEddy Tarmidi Widjaja Wakil Ketua DPD PDIP Jatim, Dwi Astutik Pengurus Muslimat Jatim, hingga Lia Isthifhama pengurus Fatayat NU Jatim. (bas/tin)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.