POLITIK

PKS Hormati Manuver Politik Prabowo Merapat ke Kubu Jokowi

Laporan Farid Kusuma | Minggu, 13 Oktober 2019 | 07:07 WIB
Presiden Joko Widodo berswafoto bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan wartawan kepresidenan di Ruang Kredensial, Istana Merdeka, Jakarta pada Jumat (11/10/2019). Foto: Humas Pers Setpres
suarasurabaya.net - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak ambil pusing dengan manuver politik Prabowo Subianto Ketua Umum Partai Gerindra, menjelang pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024.

Aboebakar Alhabsyi Ketua DPP PKS mengatakan, pihaknya menghormati pilihan politik Prabowo yang akhir-akhir ini akrab dengan Jokowi pesaingnya di Pilpres 2014 dan 2019.

"Kami tidak bisa mengurus dapur orang. Yang jelas, PKS siap dengan segala situasi yang ada, Insha Allah kami siap di dalam pemerintahan atau di luar. Waktu Pak SBY Presiden, kami bersama pemerintah. Kemudian di zaman Pak Jokowi, kami di luar, dan semuanya baik-baik saja," ujarnya melalui pesan elektronik yang diterima redaksi, Sabtu (12/10/2019).

Aboebakar yang kembali terpilih sebagai anggota DPR RI menambahkan, merujuk Pasal 4 ayat (1) UUD NRI 1945, Presiden memegang kekuasaan sebagai kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan.


"Itu menandakan bahwa sistem pemerintahan di Indonesia menganut pola Presidensial. Dalam sistem Presidensial, hubungan antara Presiden dan DPR tidak didesain dalam pola koalisi atau oposisi, melainkan lebih dalam pelaksanaan checks and balances," paparnya.

Maka dari itu, Aboebakar Alhabsyi menyatakan partainya siap menjalankan fungsi pengawasan terhadap kinerja dan kebijakan Pemerintah sesuai aturan yang berlaku.

"Jika memang kami harus melaksanakan fungsi checks and balances sendirian, Insha Allah PKS siap menjalani. Ini adalah wujud kecintaan kami kepada bangsa dan negara ini. Artinya, tentu tetap harus ada pihak yang mengambil peran untuk melakukan proses checks and balances. Jangan sampai pemerintah dibiarkan berjalan sendiri tanpa kontrol," imbuhnya.

Lebih lanjut, Aboebakar berharap publik bisa mendudukkan pilihan politik secara proporsional. Tidak dalam satu kubu, bukan berarti bermusuhan.

"Ini adalah bagian dari ikhtiar kita membangun bangsa, harus ada yang mengambil peran menjaga keseimbangan, seperti ketika kita naik sepeda, perlu dikayuh kanan dan kiri agar bisa berjalan dan menjaga keseimbangan," pungkasnya. (rid/iss)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.